Siapapun bisa marah, karena arah itu sesungguhnya gampang. Akan tetapi, memarahi orang  yang tepat, pada waktu yang pas, dengan kadar yang sesuai, untuk tujuan yang benarn dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah.

Marah adalah salah satu jenis emosi manusia. Jenis- jenis emosi itu bisa sering kali kita rasakan secara bersamaan. karena memang begitulah kodratnya. Satu jenis emosi, seperti marah, bisa bercampurdengan jenis emosi yang lain, misalnya takut. emosi juga begitu cepat berubah.

Kita cukup beruntung karena dibalik emosi tersimpan potensi kecerdasan. Kecerdasan emosi (emotional quotient, emotional intelligence) marak semenjak pertengahan dasawarsa ’90-an. Daniel Goleman, seorang pakar asal Amerika Serikat (AS), adalah orang yang berjasa mengenalkan gagasan ini kepada dunia. Goleman menjelaskan, kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi, baik saat menghadapi diri sendiri maupun tatkala berhubungan dengan orang lain.

Mengenali Emosi

Emosi bersemanyam didalam diri kita. mengenali kondisi diri kita ketika emosi muncul adalah dasar kecerdasan emosional. Pengenalan itu berpengaruh kepada tanggapan atas emosi tersebut. Dengan demikian, tanggapan yang berupa perbuatan, ucapan, atau bahasa tubuh pun menjadi terkendali.

Goleman menyebutkan hal ini sebagai kesadaran diri, yaitu kemampuan seseorang untuk mengetahui perasaannya dan menggunakannya sebagai bahan pengambilan keputusan bagi dirinya sendiri. Kesadaran diri juga membuat orang itu memiliki tolak ukur yang sesuai dengan kemampuan kita, alias tidak berlebi-lebihan dalam mengukur diri.

Kesadaran diri adalah salah satu kunci sukses orang-orang besar, seperti yang dialami Robbie Williams, seorang penyanyi, Penulis lagu, dan produsen rekaman, asal ingris. Pada mulanya, williams adalah anggota kelompok Vocal Take That yang sangat populer pada akhir dasawarsa ’90-an.  sebagai sebuah kelompok, popularitas pun  harus dibagi-bagi kepada setiap anggota.

Williams merasa bahwa hasratnya untuk menjadi musisi besar tidak akan tercapai jika ketenarannya harus dibagi- bagi. ia juga merasa bahwa kelompoknya hanya memainkan jenis musik yang itu-itu saja. hanya ada satu matahari di dunia ini, kata pepatah, dan williams mengamininya. Akhirnya, Williams memutuskan untuk mundur dari kelompok yang telah membesarkannya itu. padahal, ketika itu Take That tengah berada dijalur kesuksesan, terutama dengan lagu Back for Good.

Meskipun  jiwanya sempat tertekan, tiada kata menyerah dalam kamus williams. ia meneguhkan hati untuk bersolo karir dengan tekun, khususnya membuat lagu dan bekerja sama dengan para musisi yang telah berpengalaman.