Bencana banjir bandang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tangse, Kabupaten Pidie ternyata menjadi musibah exstreme nomor dua, setelah bencana alam gempa dan tsunami tahun 2004 lalu, yang melanda pesisir Aceh. Hal ini dituturkan seorang warga Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat saat berada di lokasi bencana, dalam perjalanan pulang dari Kota Lhokseumawe.

Abdul jalil bersama rusdi faizin, pada hari rabu (9/3) dari meulaboh pukul 10.00 wib berangkat melintasi calang kabupaten aceh jaya dengan melintasi dua buah rakit di kecamatan jaya (lamno) menuju banda aceh dengan tujuan kota lhokseumawe, tepat pukul 02.00 wib kamis (10/3) tiba dilhokseumawe menginap diwisma selat malaka cunda

Banjir Bandang Tangse Maju Kenak Dan Mundur Kenak
Gsfaceh. 9-11 Maret 2011
Meulaboh – Bencana banjir bandang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tangse, Kabupaten Pidie ternyata menjadi musibah exstreme nomor dua, setelah bencana alam gempa dan tsunami tahun 2004 lalu, yang melanda pesisir Aceh. Hal ini dituturkan seorang warga Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat saat berada di lokasi bencana, dalam perjalanan pulang dari Kota Lhokseumawe.

Abdul jalil bersama rusdi faizin, pada hari rabu (9/3) dari meulaboh pukul 10.00 wib berangkat melintasi calang kabupaten aceh jaya dengan melintasi dua buah rakit di kecamatan jaya (lamno) menuju banda aceh dengan tujuan kota lhokseumawe, tepat pukul 02.00 wib kamis (10/3) tiba dilhokseumawe menginap diwisma selat malaka cunda.

Rusdi faizin yang pada 26 Desenber 2004 lima tahun yang silam sempat terbawa arus tsunami dari desa ujong kalak dibawa arus kekebun rumbia desa ujong baroh oleh air tsunami yang sempat trauma atas musibah tersebut. Dan pada tahun 2011 mengalami terjangan arus air bah/ banjir bandang tangse yang kedua kali.

Pada pagi hari kamis setelah sarapan pagi kami bergegas menuju bukit indah lokasi pertemuan yang menjadi tujuan kedatangan kekota lhoksemawe, yang memerlukan waktu enam menit sampai ketempat tujuan, tetapi kami mengalami kemacetan dan menghabiskan waktu dari Simpang Cunda menuju bukit indah selama tiga puluh menit, karena salah satu mobil angkutan umum CV. Kurnia menabrak pagar rumah penduduk dengan kondisi bagian depan mobil rusak parah dan kami tidak tahu apakah ada korban jiwa maupun luka-luka akibat tabrakan maut tersebut.

Setelah selesai pertemuan dibukit indah kami menuju kota lhoksemawe untuk minum kopi di Dapu kupi depan kantor BI dan sambil menunggu teman lama yaitu dahlan abdurahman, setelah bertemu dengan dahlan serta selesai berbicara, kami minta pamit untuk kembali kemeulaboh, pada pukul 14.00 wib kami meninggalkan dapu kupi lhokseumawe.

Pada saat memasuki lintasan beureunun kemala pukul 17.30 wib jalil melakukan komunikasi dengan anak dan istrinya dimeulaboh yang pada inti ceritanya diprediksikan pada pukul 00.00 wib tiba dirumah meulaboh aceh barat, apabila tidak ada halangan.karena dalam kenderaan kami berdua saling tukar dan bergantian kemudikan mobil .

Banjir bandang tangse.
Abdul Jalil (40) warga ujong baroh, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, saat kejadian bencana arus kencang banjir bandang tersebut, pada Kamis (10/3) pukul 18.30 menjelang magrib. Ia dengan Pj. Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Rusdi Faizin, sedang berada dalam kendaraan roda empat yang pada waktu itu sopirnya rusdi faizin, tepat di Desa Blang Bungong, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie kami diterjang banjir bandang.

Abdul Jalil mengungkapkan suasa menjelang malam sekira pukul 18.30 Wib (10/3) mulai suara gemuruh dan diselingi suara menyerupai ledakan akibat batangan kayu menabrak sejumlah benda yang ada di depannya, sampai kondisi ini memecah kosentrasi warga dan sejumlah penguna jalan lintas Tutut Geumpang – Meulaboh. “Suasa panik masyarakat tangse saat itu, karena padangan kita tidak dapat terlalu jauh sebab telah mulai gelap (magrib) dan hujan deras. Sehingga banyak warga yang bermukim di tepi seungai tidak tahu harus meninggalkan rumah mereka yang terancam diseret dan dihantam berondongan kayu itu,” ucapnya.

Rusdi faizin yang mengendalikan mobil berusaha melawan arus banjir bandang didesa blang bungong menuju ibu kota kecamatan tangse dengan usaha kendraan tidak mati agar tidak terseret air yang sekali-kali mobil bertabrakan dengan kayu yang dibawa air. Dan pada akhirnya kami berhasil naik kepuncak gunung kedai tangse didepan mesjid.

Terjangan arus air Bandang, dikatakan Abdul Jalil berlangsung sangat cepat dan deras melalui Sungai Tangse dan jalan . Air bah tersebut, dikenang Jalil terlihat bercampur dengan lumpur dan berondongan kayu. Rumah-rumah ditepi Sungai ikut diseret arus deras. kami hanya berusaha mengendrai mobil sekencang-kencangnya menuju puncak Gunung Tangse. “Kala itu, koneksi Telpon selullar tidak ada. Lampu mati, jadi saya dan sejumlah penguna jalan lainnya terpaksa ikut dengan warga desa setempat bermalaman di Gunung Tangse itu,” paparnya.

Kejadian banjir bandang diungkapnya merupakan bencana exstreme kedua pasca bencana gempa dan tsunami melanda pesisir Aceh pada Tahun 2004 lalu.”Sedih kita, karena harta benda dan lahan pertanian yang terseret arus deras serta tertimbun tanah. kerugian besar yang diderita masyarakat akibat banjir bandang,” ucapnya mengenang.

Kami berdua pada malam itu bergantian tidur takut ada banjir susulan karena hujan deras dan dalam kondisi gelap telepon seluler tidak berfungsi membuat jantung berdetak teringat keluarga yang pasti gelisah menunggu kami pulang dengan keadaan tampa kabar terputus koordinasi.

Tepat pada kamis malam pukul 23.30 wib (10/3) wakil bupati pidie Nazir Adam, SE. MM tiba di kecamatan tangse tempat kami ber istirahat mengunjungi warganya yang baru saja diterjang banjir bandang dan kami tidak tahu pukul berapa wakil bupati tersebut kembali kekabupaten pidie setelah menemani warganya paska kejadian tersebut.

Kesokan hari-nya, Abdul Jalil dan Rusdi Faizin melihat jalan Tutut Geumpang – Meulaboh putus amblas (longsor) pada sejumlah titik. Terpaksa, memutar stir guna melalui jalur lintas pesisir pantai Barat Aceh agar tiba ke Johan Pahlawan Meulaboh. “Walau pun jauh mau tidak mau kita harus mutar lagi ke Banda Aceh, lalu baru langsung Meulaboh,” ungkapnya.

Saat melintasi pulang telepon seluler kami baru berfungsi di desa blang dhod dengan masuknya ratusan sms dan cm dari istri dan anak yang semalaman mencoba mengkonfirmasi keberadaan kami kenapa belum tiba dirumah, mumpung sinyal hp telah ada kami bergegas menghubungi keluarga kami masing-masing untuk menghilangkan kegelisahan semalaman yang tiada kabar.

Setibanya di banda aceh kami berhenti untuk istirahat sejenak di dapu kupi simpang surabaya iya, sekedar minum kupi agar tidak mengantuk diperjalanan menuju meulaboh. Dalam perjalanan banda aceh calang hati bergetar serta mengerikan adalah dikecamatan jaya (lamno), karena dalam suasana hujan menyebrangi sungai dengan rakit usang terlintas ketakutan tenggelam dan terbayang barat selatan ibarat tahun tujuh puluhan. Kapan terbebas dari rakit getaran hati kecil tersentak lahir petunjuk tanyakan saja pada hujan yang turun.

Pada perjalanan menuju meulaboh puluhan angkutan L-300 dan mobil pribadi berkerumun di depan mesjid teunom, yang setelah kami bertanya, ternyata mereka telah berada di keude teunom semenjak pukul 16.00 wib sore (11/3) karena didepan dekat jembatan teunom banjir, yang kata masyarakat air yang turun dari sungai tangse.

Apa gerangannya pulang melintasi tangse kenak air dan pulang melintasi banda aceh calang juga kenak air tangse, ini memang nasib maju kenak dan mundurpun kenak air kata abdul jalil.

Setelah bermusyawarah berdua abdul jalil dan rusdi faizin bersepakat untuk melanjutkan perjalanan kemeulaboh dengan mengarungi air bah yang menghalangi jalan setinggi satu meter dan tiba dikota meulaboh/ kerumah pukul 22.00 wib jum’at (11/3).(Den- har)