Pendidikan Islam mengandung berbagai kelemahan sehingga jika dihadapkan dengan era kontenporer, akan terbentur dan tidak mampu menjawab tantangan yang muncul kepermukaan. Kelemahan tersebut sangat kompleks; yaitu berapa persoalan dikotomi pendidikan, kirikulum tujuan, sumber daya, serta manajemen pendidikan dalam Islam belum begitu tepat di samping tanggung jawab menurun drastis. Jika penggunaan metoda pendidikan Islam dihayati benar-benar, akan mampu meningkatkan kualitas imam bagi anak didik

Kata Kunci: Tanggung Jawab Orang Tua, Metoda dan Iman

A. Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pendidikan Iman

Kelahiran anak dalam suatu keluarga selain memberikan kebahagian tersendiri juga menimbulkan tugas baru bagi kedua orang tuanya, tanggung jawab terhadap pemeliharaan dan pendidikannya. Islam memandang anak adalah amanah Allah yang harus di pelihara dengan baik dari segala sesuatu yang membahayakan baik yang berhubungan dengan badaniah maupun rohaniah.( Q.S An-Nisa’: 9)

Setiap orang Islam harus bertanggung jawab terhadap keselamatan generasi penerus  yang di tinggalkan dalam  keadaan lemah baik fisik maupun mental terutama mental sepritual. Oleh karna itu menyelamatkan mereka dengan jalan memberikan pendidikan aqidah (keimanan) pendidikan agama dan pendidikan akhlak yang mantap dalam seluruh aspek hidupnya, merupakan tanggung jawab utama setiap orang tua sehingga mereka tidak mudah di pengarui oleh kondisi dan situasi yang bagaimana pun. Dalam hal ini kedua orang tuanya mendidik dilingkungan keluarga serta menyerahkan kelembagaan tertentu dalam bidang pendidikan

Pendidikan agama dan spritual berarti membangkitkan kekuatan dan kesediaan yang bersifat naluri pada anak melalui bimbingan agama yang sehat dan mengamalkan ajaran-ajaran agama. Membebelkan anak-anak dengan pengetahuan agama, aqidah muamalah dan sejarah harus sesuai dengan tingkat usianya. Begitu juga dalam melaksanakan kewajiban agama dan menolongnya mengembangkan sikap agama yang betul, dimulai dari iman kepada Allah malaikat, rasul-rasul hari kiamat kepercayaan agama yang kuat takut kepada Allah dan selalu mendapat pengawasan-Nya dalam segala perbuatan dan perkataan.

Kewajiban pendidik dalam hal ini adalah menumbuhkan anak atas dasar pemahaman dan dasar-dasar iman dan ajaran Islam, sebagai aqidah maupun ibadah dan hanya mengambil Islam sebagai agamanya al-qur’an sebagai imannya dan rasul sebagai pemimpin dan teladanya.

Pendidikan iman menurut Nashih Ulwan adalah mengikat anak dengan dasar iman, rukun Islam dan dasar dasarnya iman adalah segala sesuatu yang di tetapkan melalui pemberitaan secara benar, berupa hakikat  imanan dan masalah gaip meliputi rukun iman seperti siksa kubur, surga, neraka hal gaip lainya. pembinaan dan pembiasaan ajaran agama ada anak sejek kecil, sangat penting kerena dengan demikian akan dapat mengetahui dan menangkap bahasa dan pengertian yang berhubungan   dengan  agama secara berlahan lahan karena kecerdasanya belum sampai ketarap untuk mendapat hal-hal yang sifat absrak

Zakiah Darajat mengatakan” apabila latihan-latihan keagamaan dilalaikan diwaktu kecil atau di berikan dengan cara yang kaku, salah dan tidakn cocok dengan kemampuan anak-anak, maka ketika dewasa akan kurang peduli terhadap ajaran agama. Dari uraian ini dapat dipahami bahwa kedua orang tualah sebagai pendidik pertama dan utama dalam setiap keluarga, dan bertanggung jawab penuh terhadap kelangsungan pendidikan anak-anaknya terutama sekali dalam bidang aqidah( Keimanan), sehingga menjadi anak yang taat bertaqwa kepada Allah SWT. berguna kepada kedua orang tuanya, agama, nusa dan bangsa

Namun tanggung jawab itu belum dilakukan oleh orang tua dan kelihatanya masih santai-santai saja, dan kalaupun ada tidak ada indikator keseriusan. Bahkan kata Azyumardi Azra” upaya perbaikanya belum dilakukan secara mendasar, sehingga terkesan seadanya saja.usaha pembaharuan dan peningkatan pendidikan Islam sering bersifat sepotong-potong atau tidak komprensif dan menyeluruh serta sebagian besar sistem dan lembaga pendidikan Islam belum di kelola secara propesioanal”

Kelemahan lainya menurut Azyumardi Azra adalah pola pengajaran keimanan masih mengunakan tiori yang tidak mendukung, kajian kitab pemahaman yang ekstrem, serta masih di pahaminya pengertian jihad yang sempit. Disamping itu, kualitas keilmuan dan keilmiahan masih kurang, masih memandang ilmu umum sebagai misi utama bahkan ada yang dianggap kafir, serta belum mempunyai pola pemikiran yang filosofis

Untuk menghadapi dan membangun masyarakat madani di Indonesia, diperlukan usaha pembaharuan pendidikan Islam secara mendasari yaitu:

  1. Perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul dirasakan pada asumsi dasar tentang manuasi, terutama pada fitrah atau potensi;
  2. Pendidikan Islam harus menuju pada intrekritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama, karena dalam pandangan Islam ilmu pengatahuan itu satu yaitu berasal dari Allah
  3. Pendidikan Islam didisain menuju sikap dan prilaku” Toleransi” lapang dada dalam berbagai hal, bidang pertama toleran dalam perbedaan pendapat dan penafsiran ajaran Islam tampa melepaskan pendapat atau prinsipnya yang diyakini.
  4. Pendidikan yang mampu menembuhkan kemampuan untuk berswadaya dan mandiri dalam kehidupan,
  5. Pendidikan yang menumbuhkan etos kerja, mempunyai aspirasi pada kerja, disiplin dan jujur.
  6. Pendidikan Islam perlu di didisain untuk mampu menjawab tantangan masyarakat untuk menuju masyarakat madani serta lentur terhadap perubahan zaman dan masyarakat.

B   Metode Pendidikan Iman dan Anak

Manhaj Islam dalam mendidik anak sangat sempurna dan komprehensif, yaitu menumbuhkan kesadaran secara benar dan lurus sehingga berbagai potensi baik jasad, akal dan ruh bergerak dan menjadi modal meraih kebaikan.

Sesuai Firmanya (Q.S Ali Imran: 110) membaca alqur’an merupakan materi pelajaran yang  sangat relevan. anak dalam kandungan hendaknya sudah di ajarkan membaca Alqur’an meskipun ia masih berada pada tingkat responya saja dari dalam perut ibunya. Metodenya dengan membaca Al-qur’an itu kepadanya. Suami mengajarnya dengan membacakan Al-qur’an.

Metode pendidikan keimanan dapat digali dari Al-qur’an didalam Al’-qur’an ditemukan berbagai metode dakwah yang diberikan Allah SWT. Kepada para rasul untuk mengajak  manusia kepada jalan kebenaran. Pendidikan Islam pada hakikatnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari metode dakwah Islam. Oleh karena itu metode dakwah yang dilakukan rasul juga berlaku untuk metodelogi pendidikan.

Penerapan Al-qur’an tentang berbagi metode dakwah dapat di jadikan reperensi atau rujukan dalam membagun metodelogi pendidikan agama pada anak didik. Metode inipula diharapakan dapat dijadikan model dalam pendidikan keluarga.metodelgi pendidikan menurut merupakan sebuah upaya mengunakan metode pendidikan berdasarkan Al’qur’an sebagai berikut adalah:

  • Metode Ta’lim

Secara hafiyah artinya memberitaukan sesuatu kepada orang lain yang belum tau. ini dijumpai dalam Alqur’an antara lain: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, ( Al-Qur’an Surat Albaqarah 31)

Metode ini merupakan metode dasar dalam pendidikan. Metode Ta’lim dapat diterapkan dalam pendidikan keimanan, misalnya: seorang ibu memberitaukan kepada anaknya Tuhan itu satu, tidak beranak dan tidak berbapak. Uraian ini dapat dikembangkan sesuai dengan kemampuan dan kelompok umur anak sambil bercanda dan berdongeng

  • Metode Tabyin

Metode tabyin yaitu memberi penjelasan kepada lawan bicara atau anak didik setelah memberi tau tentang sesuatu secara berlahan. Hal ini dapat dilihat dalam dialog nabi musa dengan kaumnya, ketika Allah memerintahkan penyembelihan sapi.

Penerapan metode ini dalam pendidikan keimanan, misalnya ketika ibu menjelaskan Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan atau berbapak, ketika anak menyampaikan sanggahan, kenapa dalam agama lain” Isa disebut sebagai anak Tuhan” hal ini dapat dijelaskan lebih jauh keberadaan Allah tidak memerlukan proses kelahiran seperti manusia dan seterusnya.

  • Metode Tafshil

Metode tafshil adalah suatu cara untuk memberikan keterangan secara mendetil mengenai suatu masalah, agar anak dapat memperoleh pengetahuan secara utuh, mendalam dan benar.

Contoh dalam pendidikan iman misalnya orang tua menjelaskan kepada anak tentang Allah SWT. Yang berhak disembah, hal ini  harus dijelaskan secara rinci sifat-sifat yang wajib dan mustahil bagi Allah yang diyakini umat Islam berbeda dengan konsep Allah dalam keyakinan kristen atau persembahan agama lain.

  • Metode Tafhim

Metode ini memberikan pengertian dan pemahaman tentang suatu masalah dengan merumuskan suatu objek secara utuh baik benda, keadaan, persoalan atau kasus. Metode ini dapat dipergunakan ibu dalam menanamkan semangat cinta kasih, keadilan, kebenaran dan kejujuran pada diri anak  dalam bidang aqidah misalnya orang memahamkan anak tentang Al-qur’an dengan memberi pemahaman bahwa Al-qura’an sebagai dasar Islam dalam mengatur tata kehidupan, sebagai pedoman hidup, sumber ilmu, sumber aklak yang wajib dipelajari dan dilakukan dalam kehiduapan sehari-hari.

  • Metode Tabsyir

Metode tabsyir mengunakan badan atau gerak badan sebagai isyarah seperti gerak petunjuk, kedip mata anggukan kepala dan cara lain yang dapat diterima dan dipahami sebagai suatu pertanda. Metode ini bukanlah hal baru lagi dalam dunia pendidikan dan metode ini sangat sering digunakan sebagai suatu metode yang efektif dalam pengajaran dan pendidikan anak misalnya menyuruh anak shalat dengan mengisyaratkan gerakan takbir, menutup mulut jangan berisik.

  • Metode Taqrir

Metode taqrir adalah memberikan pengkuan atau persetujuan tanpa kata, bisa berupa sikap diam, tersenyum atau membirkan meneruskan apa yang sedang dilakukan. Dalam bidang aqidah misalnya sikap orang tua membiarkan anaknya mendatangi kuburan keramat atau memakai jimat saat ujuan. Sikap mendiamkan semacam ini akan dipandang oleh anak perbuatan itu benar  padahal secara aqidah itu keliru. Orang tua yang mengerti seluk beluk syirik tidak membiarkan agar perilaku anaknya yang mengarah kepada kesyirikan.

  • Metode Tabsyir dan Tanzir

Metode Tabsyir yaitu metode yang selalu digunakan Al-qur’an dengan memberikan kabar bembira yang menyajikan hal-hal menyenangkan bisa seseorang mengerjakan kebaikan. Metode Tabsyir juga sering digunakan Al-qur’an dengan memberikan kabar duka atau peringatan secara berhati hati dalam hal-hal yang tidak baik dan akibat yang akan diterimanya. mengunakan metode Metode Tabsyir dan Tanzir, orang tua benar-benar paham akan mamfaat dan mudharat atau suatu resiko dari suatu pelanggaran yang dilakukan anak orang tua jua harus konsekwen kesamaan antara tindakan dan ucapan antara ayah dan ibu sebagai teladan dalam pendidikan anak dilingkungan kelurga.